Kemendes Terus Sebarkan Konsep Pertanian Pintar

0 Pengunjung | Indakop dan Hubpartel | Industri | 2019-07-11
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terus membumikan konsep smart farming. Targetnya, smart farming bisa dikembangkan 144 kawasan transmigrasi dalam lima tahun ke depan.

Hal itu sejalan perkembangan teknologi di era digital. Kemendes akan turut menerapkan teknologi. "Dengan adanya teknologi, kita memperkenalkan konsep smart farming," kata Sekjen Kemendes, Anwar Sanusi, di University Club UGM, Selasa (9/7).

Ia menjelaskan, program ini telah mulai dijalankan di Sumba Timur, meski dalam lingkup yang kecil. Selain teknologi, petani didorong memasarkan produk mereka secara daring.

Tujuannya, agar mereka dapat menjual sendiri produk mereka dan mendapat penghasilan yang lebih tinggi. Ia menyebutkan, ada berbagai kendala yang dihadapi program transmigrasi.

Di antaranya, persoalan konektivitas mulai dari prasarana transportasi hingga akses internet. Salah satu yang kerap menjadi pertanyaan tentu saja persoalan pendidikan.

Untuk itu, Anwar mengaku sudah melakukan MoU dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Ristek Dikti. Yaitu, untuk program khusus pengembangan sumber daya manusia.

"Jadi, anak-anak transmigran bisa mendapat beasiswa untuk mereka kuliah dan setelah itu mereka kembali dan mengembangkan daerahnya," ujar Anwar, di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) Perencanaan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi 4.0 yang digelar Fakultas Geografi UGM dan Kemendesa PDTT.

Anwar menyebut, FGD penting sebagai wujud kerja sama antara para akademisi dan birokrat. Utamanya, untuk mencari solusi bagi persoalan yang ada di tengah masyarakat.

Apalagi, ia menekankan, kebijakan yang diambil pemerintah perlu dilandasi kajian komprehensif yang dihasilkan akademisi-akademisi yang kompeten di bidangnya. Agar, kebijakan bisa dipahami rakyat.

"Bisa tidak nyambung karena basisnya tidak didasarkan realitas empiris yang biasanya dihasilkan oleh dunia perguruan tinggi," kata Anwar.

Ia berharap, kegiatan ini akan meruntuhkan sekat-sekat antara dunia akademis dan birokratis. Sebab, birokrat perlu pendampingan dari akademisi.

Kemudian, pada saat yang sama akademisi perlu menerapkan hasil penelitian yang mereka lakukan agar tidak hanya dipampang di dalam jurnal. Tapi, bisa diolah menjadi kebijakan yang berdampak. (ant)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Pemerintah Bangun Jalan Akses ke Ibu Kota Baru Mulai 2020
  • KKP Targetkan Integrasi Lahan Garam Capai 3.200 Ha pada Akhir 2019
  • Kementan Tegaskan Sudah Realokasi Pupuk Subsidi untuk Sumut
  • Kementan Kembangkan Kawasan Buah Tropis Berorientasi Ekspor
  • Kementan Launching SIMURP, Optimalisasi Sistem Irigasi
  • Bulog Bakal Luncurkan 50 Produk Beras Komersil
  • Indonesia Sesuaikan Standar Mutu Pertanian di Tingkat ASEAN
  • Warga Asahan dan Tanjung Balai Rasakan Manfaat Proyek Pengendalian Banjir Asahan
  • Bulog Segera Bangun Gudang Khusus Kedelai Lokal
  • Badan Karantina Akan Fasilitasi Usaha Pertanian Berorientasi Ekspor
  • Pemindahan Ibu Kota Dorong Pertumbuhan Investasi di Daerah
  • Kementan Buka Pintu Lebar Investasi Jenis Usaha Agribisnis
  • Strategi BI Jaga Harga Cabai Tak Sumbang Inflasi Solo
  • KLHK Susun Kajian Lingkungan Hidup Ibu Kota Baru
  • Produksi Juli Naik, Stok Minyak Sawit Indonesia Jauh Lampaui Kebutuhan
  • Kementan Siapkan Rencana Strategi Pupuk Bersubsidi Tahun 2020
  • Kemendag: Ketentuan Halal tak Halangi Perdagangan Global
  • Industri Kakao Sumbang Devisa 1,13 Miliar Dolar AS
  • 10 Investor Masuk, Pemerintah Target Swasembada Gula
  • Babel Kembangkan Agroindustri Tapioka dari Singkong Lokal