Pertemuan Jokowi dan Prabowo Beri Sinyal Positif Buat Ekonomi RI

0 Pengunjung | Indakop dan Hubpartel | Industri | 2019-07-15
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akhirnya bertemu untuk pertama kalinya setelah berkompetisi pada pemilihan presiden (pilpres) 2019-2024. Pertemuan kedua negarawan ini diyakini berimbas positif buat perekonomian Indonesia.

Ekonom Senior INDEF Didik J. Rachbini menilai pertemuan kedua tokoh tersebut memberi kepastian kepada pelaku usaha tentang stabilitas politik Indonesia, yang ujung-ujungnya juga ke perekonomian.

"Jadi pertemuan Jokowi-Prabowo dilihat dari kepentingan ekonomi maupun politik bersifat positif. Dengan segala kelemahannya demokrasi menjadi lebih matang, sehat dan dampaknya terhadap ekonomi juga akan positif, terutama kepastian dunia usaha," kata dia dalam diskusi online oleh INDEF bertema 'Agenda Ekonomi 2019-2024, Pasca Rekonsiliasi', Minggu (14/7/2019).


Secara ekonomi politik, lanjut Didik, pertemuan Jokowi dan Prabowo yang bersifat informal itu bermakna besar sebagai suatu rekonsiliasi politik, yang ada dampaknya terhadap ekonomi, kebijakan ekonomi dan masa depan ekonomi Indonesia.

Oleh karenanya pertemuan keduanya, secara ekonomi dan politik menunjukkan bahwa proses pemilu yang membelah dua kubu ini mulai cair, sehingga tidak mengancam kepentingan nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti INDEF Imadudin Abdullah menjelaskan pertemuan Jokowi-Prabowo membuat ketegangan politik mereda dan menciptakan stabilitas. Hal itu menjadi sentimen positif buat perekonomian.


"Stabilitas domestik ini penting sebagai fondasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Tetapi, jangan sampai proses rekonsiliasi ini hanya semata-mata bagi-bagi kekuasaan dan pada akhirnya tidak ada pihak yang mengkritisi kebijakan dan kondisi ekonomi nasional," jelasnya.

Menurutnya kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan. Apalagi menurutnya 5 tahun ke depan menjadi waktu yang krusial untuk menciptakan fondasi agar Indonesia bisa terlepas dari jerat negara berpendapatan menengah.

Dia menjelaskan 5 tahun ke depan adalah fondasi penting karena pada tahun-tahun inilah Indonesia mulai memasuki window of opportunity yaitu bonus demografi. (det)

- Tag : Industri

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Ada Kemarau Panjang, BI Optimis Inflasi Tetap di Bawah 3,5 Persen
  • Korea Selatan Bakal Perluas Investasi Teknologi di Indonesia
  • Kemendes Digitalisasi Desa di Kabupaten Lombok
  • Gubernur BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Lebih Baik
  • Presiden Jokowi Mengapresiasi Operasi Kapal Ternak
  • Pemkab Tabanan Galakkan BUMDes dan BUMDes Bersama
  • KKP Minta Industri Kencangkan Serapan Garam Lokal
  • Presiden Jokowi Banggakan Garam NTT Lebih Bagus dari Produk Impor Australia
  • Pemerintah Semakin Gencar Lakukan Relaksasi ke Dunia Usaha
  • Pemerintah Pastikan Industri Serap Garam Lokal
  • Rata-Rata Pendapatan Masyarakat Desa Meningkat
  • Petani Padi Serasi Siap Diikutkan Asuransi Usaha Tani Padi
  • Per Agustus, Produksi Garam Rakyat Capai 197.000 Ton
  • KKP Kirim Tim Pastikan Petambak Terdampak Tumpahan Minyak Pertamina Raih Ganti Rugi
  • Pabrik Pakan Ternak Komitmen Gunakan Bahan Baku Lokal
  • Dua Pekan Terakhir, Industri Serap 100 Ribu Ton Garam Lokal
  • KKP Dorong Industri Serap Seluruh Garam Lokal
  • Maksimalkan Sawit, Posisi Tawar Indonesia Bisa Meningkat
  • Mendes PDTT: Pedesaan Punya Potensi Usaha yang Besar di Berbagai Bidang
  • Presiden Jokowi Bakal Panen Garam dan Bagi Sertifikat Tanah di Kupang