Mentan Bantah Biaya Produksi Beras Mahal

0 Pengunjung | Indakop dan Hubpartel | Industri | 2019-07-19
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membantah adanya biaya produksi beras yang mahal. Menurut dia, biaya produksi beras domestik cukup kompetitif jika dibandingkan dengan negara produsen beras di kawasan Asia Tenggara. 

Mahalnya biaya produksi beras domestik dilontarkan Perum Bulog beberapa waktu lalu ke publik. Sebab, karena harga jual yang tidak kompetitif dalam penjajakan ekspor beras cadangan pemerintah (CBP), penjajakan ekspor dengan negara-negara peminat beras Indonesia pun gagal. Terkait hal ini, Amran membantah keras.

“Harga beras kita kompetitif, biaya produksi kita cukup murah. Bersaing itu dengan Vietnam dan lainnya,” kata Amran saat ditemui Republika, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (18/7) malam. 

Dia membandingkan, harga beras Indonesia dengan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan masih jauh lebih kompetitif beras Indonesia. Sebagai perbandingan, kata Amran, rata-rata harga beras di tiga negara tersebut mencapai Rp 30 ribu per kilogram (kg). Sedangkan harga beras Indonesia jika mengacu pada harga pembelian Bulog sebesar Rp 8.030.

Menurut Amran, harga pembelian beras di petani dipastikan bisa di bawah Rp 7.000 per kg sebab ada cost di rantai niaga yang diisi middleman seperti pengusaha dan juga perusahaan penggilingan padi. Dengan harga beli di petani tersebut, dia memastikan terdapat estimasi keuntungan yang sudah diperoleh petani. Estimasi itu melingkupi di dalamnya biaya produksi yang dinilai murah. 

Murahnya biaya produksi beras, kata Amran, didasarkan adanya pembangunan sejumlah fasilitas sarana pertanian sejak 2015. Terutama terkait ketersediaan air seperti embung, pompanisasi, irigasi, hingga penggalian sumur dangkal dan dalam di sekitar lahan tanam. 

“Jadi kalau ada yang bilang biaya produksi (beras) kita mahal, tolong dong sekali-kali lihat harga beras di negara lain,” kata Amran. 

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, Kepala Bulog Budi Waseso (Buwas) menyatakan penjajakan ekspor Indonesia gagal sebab kalah saing di sisi harga jika dibandingkan dengan negara-negara produsen beras seperti Thailand dan Vietnam. Buwas menyebut, harga beras yang ditawarkan negara-negara tersebut jauh lebih murah jika dibandingkan tawaran harga ekspor beras Indonesia. Diketahui, beras Vietnam dan Thailand dibanderol dalam pasar ekspor mereka sebesar Rp 6.200 per kg. (ant)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Ada Kemarau Panjang, BI Optimis Inflasi Tetap di Bawah 3,5 Persen
  • Korea Selatan Bakal Perluas Investasi Teknologi di Indonesia
  • Kemendes Digitalisasi Desa di Kabupaten Lombok
  • Gubernur BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Lebih Baik
  • Presiden Jokowi Mengapresiasi Operasi Kapal Ternak
  • Pemkab Tabanan Galakkan BUMDes dan BUMDes Bersama
  • KKP Minta Industri Kencangkan Serapan Garam Lokal
  • Presiden Jokowi Banggakan Garam NTT Lebih Bagus dari Produk Impor Australia
  • Pemerintah Semakin Gencar Lakukan Relaksasi ke Dunia Usaha
  • Pemerintah Pastikan Industri Serap Garam Lokal
  • Rata-Rata Pendapatan Masyarakat Desa Meningkat
  • Petani Padi Serasi Siap Diikutkan Asuransi Usaha Tani Padi
  • Per Agustus, Produksi Garam Rakyat Capai 197.000 Ton
  • KKP Kirim Tim Pastikan Petambak Terdampak Tumpahan Minyak Pertamina Raih Ganti Rugi
  • Pabrik Pakan Ternak Komitmen Gunakan Bahan Baku Lokal
  • Dua Pekan Terakhir, Industri Serap 100 Ribu Ton Garam Lokal
  • KKP Dorong Industri Serap Seluruh Garam Lokal
  • Maksimalkan Sawit, Posisi Tawar Indonesia Bisa Meningkat
  • Mendes PDTT: Pedesaan Punya Potensi Usaha yang Besar di Berbagai Bidang
  • Presiden Jokowi Bakal Panen Garam dan Bagi Sertifikat Tanah di Kupang