Indonesia Masih Aman Dari Ancaman Perang Dagang

0 Pengunjung | Indakop dan Hubpartel | Perdagangan | 2019-08-13
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Indonesia diyakini masih aman dari gejolak perang dagang AS-China. David E. Sumual, ekonomi Bank Central Asia menyatakan dalam suasana perang dagang, struktur ekonomi Indonesia tidak bisa terakselerasi.

"Kalau ekonomi sedang melambat seperti sekarang, di negara emerging market dan global, kita tidak melambat sedalam mereka. Kita gerakannya relatif lebih smooth," ungkap David, Senin (12/8/2019).

David sepakat dengan riset Morgan Stanley yang menyebut pertumbuhan PDB Indonesia 2019/2020 berada pada level masing-masing 5,0%. Apalagi jika dibandingkan dengan ekonomi negara-negara Asia selain Jepang lainnya, misal Indonesia, beserta India dan Filipina, merupakan negara-negara yang cenderung kurang terkena dampak ketegangan perdagangan. Hal ini mengingat basis permintaan domestik yang bersifat endogen.

Di lain pihak negara seperti; Singapura, Malaysia, dan Thailand lebih reaktif pada perang dagang karena punya struktur ekspor-impor yang besar pada ekonomi. Sementara itu, Indonesia cenderung bertumpu pada konsumsi domestik.

"Jadi setiap ada masalah global kita tak terlalu berdampak karena ekonomi kita tak bergantung pada perdagangan internasional," pungkas David.

Hal ini diperkuat dengan porsi ekspor Indonesia yang hanya 20%. Berbeda dengan negara lain seperti Singapura, Malaysia, Thailand yang sekitar 200% ekonominya dipengaruhi oleh ekspor dan impor.

"Jadi, kalau ada perlambatan ekonomi global yang disebabkan perang dagang, itu cukup mengena, signifikan ke Malaysia, Thailand, Singapura yang ekonominya lebih terbuka," jelas David.

Ke depan Indonesia masih ada peluang bertumbuh ketika ekonomi global mulai pulih. Caranya dengan mendorong investasi dalam negeri.

Dalam skala perdagangan global melambat Indonesia tak banyak berharap dari ekspor. Kegiatan ekspor Indonesia terutama 65% masih komoditas. Di lain pihak, sekarang permintaan komoditas melemah.

"Jadi saya lihat kalau tak ada terobosan yang signifikan dari pemerintah mendorong investasi, bisa saja apa yang dikatakan Morgan Stanley bahwa ekonomi kita stagnan pada 5%," ungkapnya.

Menurut David, jika ada tindakan atau kebijakan yang radikal mendorong investasi mungkin Indonesia bisa mencapai pertumbuhan potensial 5,6%.

"Kita mungkin harus kreatif, ketika perdagangan tidak baik, kita dorong sektor jasa, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata. Makanya fokus utama pemerintah mendorong daya saing sektor jasa termasuk SDM itu penting," tegasnya.

Selain itu pemerintah perlu memperkuat sektor manufaktur yang menyediakan, memproduksi barang antara, termasuk ekspor produk manufaktur.

"Impor kita banyak di barang input mungkin bsia diberikan insentif oleh pemerintah mendorong lebih banyak investasi yang memproduksi barang antara sehingga kita bisa mengurangi impor juga," tegasnya. (ant)

- Tag : Industri

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Mulai dilirik, Kementan Tingkatkan Ekspor Beras Hitam
  • Ekspor Karet Meningkat Tajam
  • Kementan Tolak Rencana Impor Jagung
  • Mendag: Kinerja Perdagangan Indonesia Mulai Membaik
  • TPID Solo Sidak Harga Cabai di Pasar Legi
  • Bulog: Harga Jual Daging Impor Brasil Bisa Murah
  • Tingkatkan Ekspor Pertanian, Kementan Kenalkan Aplikasi SARITA
  • Mendag: Perjanjian Dagang RI-Mozambik Diteken Pekan Ini
  • Kementan: Harga Segera Stabil, Produksi Cabai Cukup
  • RI Ekspor Semangka ke Timor Leste
  • Ini Strategi Kementan Stabilkan Produksi Cabai
  • BKP Kementan Perkuat Pengawasan Pangan Segar untuk Ekspor
  • Juli 2019, Ekspor Indonesia Naik 31,02 Persen
  • OTT Bawang Putih, Kementan Cabut Rekomendasi Impor PT CSA
  • Strategi Pemerintah Agar Harga Ayam Tak Anjlok Usai Ada Impor dari Brasil
  • Mentan Ambil Langkah Tegas Terkait Impor Bawang Putih
  • RI Ekspor 15 Ribu Ton Tanaman Pangan
  • RI Ekspor Jagung hingga Ubi ke 29 Negara, Ini Daftarnya
  • Produk Pertanian Indonesia Berpotensi Perluas Pangsa Pasar Ekspor
  • Indonesia Masih Aman Dari Ancaman Perang Dagang