Maksimalkan Sawit, Posisi Tawar Indonesia Bisa Meningkat

Indakop dan Hubpartel | Industri | 2019-08-21
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Managing Director Sinar Mas Agribusiness and Food, Agus Purnomo, menyambut positif perkembangan program biodiesel pemerintah, mulai dari B20, B30, B50, hingga B100. Agus menyakini, Indonesia bisa lebih kuat posisi tawar apabila benar-benar maksimal memanfaatkan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan.

"Pasar sawit terbesar saat ini India, Indonesia, Cina kadang-kadang beli, kadang-kadang enggak dan Eropa," ujar Agus saat pemaparan capaian keberlanjutan industri kelapa sawit Sinar Mas Agribusiness and Food di Co-Hive, Jakarta, Selasa (20/8).

Untuk Eropa, kata Agus, berencana tidak mengurangi pemakaian minyak sawit sama sekali pada 2030. Agus menilai, Eropa kemungkinan tidak akan lagi menjadi pasar yang menarik bagi sawit Indonesia.

Agus menyebutkan, dari sekira 48 juta ton produksi sawit Indonesia, pasar Eropa hanya menyerap sekira 4 juta ton atau tidak sampai 10 persen. "Kalau ada pembeli (Eropa) kita layani, tapi kalau pembeli aneh-aneh tidak usah, pasar Eropa penting tapi tidak penting-penting amat. Ada 44 juta ton yang dijual ke tempat lain (selain Eropa)," ucap Agus. 

Dengan pengembangan biodiesel, Agus optimistis Indonesia akan menjadi produsen dan juga pasar terbesar untuk minyak sawit di dunia. Dengan begitu, kata Agus, Indonesia bisa mempunyai daya tawar yang kuat dalam memengaruhi harga sawit.

Agus menambahkan, Sinar Mas sendiri memiliki dua kilang untuk pengolahan biodiesel di Marunda, Jakarta Utara, dan Kalimantan Selatan. Masing-masing kilang memiliki kapasitas 300 ton.

"Kita pelaku kecil kalau untuk ini dibandingkan yang lain. Kadang-kadang (biodiesel Sinar Mas) terjual banyak, kadang sedikit, tergantung Pertamina," lanjut Agus. 

Meski begitu, kata Agus, hasil produksi biodisel Sinar Mas juga ikut berkontribusi untuk pengembangan program biodiesel pemerintah. Agus menyampaikan hasil biodiesel Sinar Mas diperuntukan untuk dalam negeri dan tidak diekspor. Perusahaan hanya mengekspor minyak kelapa sawit mentah ke luar negeri, yang kadang diolah oleh pembeli untuk biodiesel. (ant)

- Tag : Industri

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Meski Dihantam Corona, Nilai Tukar Petani Tumbuh Positif 0,49 Persen
  • Tingkatkan Daya Saing, Pupuk Kaltim Manfaatkan Digitalisasi
  • Kemenperin Konsisten Kembangkan Santripreneur
  • Kementerian PPN Paparkan Perkembangan Satu Data Indonesia
  • BPS: Inflasi Tahunan 1,54 Persen, Terendah 20 Tahun Terakhir
  • Menaker Ida Klaim Sudah Bahas RUU Cipta Kerja dengan Pengusaha dan Buruh
  • PEP Serahkan Rehabilitasi DAS dengan Tingkat Keberhasilan Penanaman 94,7%
  • 480 BPP Model KostraTani Kawal Lahan Irigasi
  • RI-Inggris Kerja Sama Proyek Rendah Karbon
  • Penyuluh BPP KostraTani Sosialisasi Pupuk Berimbang
  • Cegah Resesi Ekonomi, Ini 2 Jurus Kabinet Ekonomi Indonesia
  • Tahun Ini, Kementerian PUPR Mulai Bangun 5 Bendungan Baru
  • Genjot Rasio Elektrifikasi, ESDM Manfaatkan Tabung Listrik
  • Pertagas Teken Kesepakatan Harga Gas Untuk Industri di Jatim
  • Kementerian PUPR Kebut Program Padat Karya Tunai
  • Cetak Petani Milenial Unggul, BPPSDM dan Yess Adakan Pelatihan IT
  • Kementan Ajak Petani Mimika Gunakan Asuransi
  • Kementan Responsif Antisipasi Wilayah Banjir Musim Kemarau
  • KKP: Program Irigasi Tambak Bantu Pemulihan Ekonomi
  • Pemerintah Bakal Tambah Kuota Peserta Kartu Pra Kerja