Kementan Bersama FAO dan USAID Tingkatkan Kerjasama Penanggulangan Zoonosis dan PIB

0 Pengunjung | Pertanian dan Pertanahan | Peternakan, Perikanan dan Kelautan | 2019-09-13
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) merayakan empat tahun kerjasama penanggulangan PIB dan zoonosis (penyakit hewan yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya) bersama Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) serta Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Kerjasama ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2016 melalui Program EPT-2 (Emerging Pandemic Threat fase 2) dan fokus pada kegiatan untuk mengurangi dan mengendalikan ancaman terhadap keamanan kesehatan Indonesia, baik kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, maupun kesehatan lingkungan/satwa liar.

Menurut I Ketut Diarmita, Dirjen PKH, Kementan, Kerjasama EPT-2 ini mempromosikan pendekatan One Health (OH), dimana dalam implementasinya memerlukan kerjasama, koordinasi, dan kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor untuk pencegahan (prevent), pendeteksian (detect), dan penanggulangan (respond) ancaman zoonosis dan PIB untuk kesehatan yang optimal. Dalam pelaksanaan kerjasama ini melibatkan beberapa kementerian dan badan terkait, yakni Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), organisasi profesional kesehatan hewan dan kesehatan manusia, Universitas, dan badan-badan internasional seperti FAO dan WHO, melalui dukungan USAID. Sedangkan koordinasi program EPT-2 secara umum ditangani oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Stephen Rudgard, Wakil FAO Indonesia menyatakan bahwa Indonesia adalah contoh sukses dalam upaya pencegahan, pendeteksian, dan penanganan ancaman zoonosis global dengan menginisiasi dan melembagakan kerjasama lintas sektoral melalui pendekatan One Health.

“Keberhasilan Indonesia di mata dunia dalam menangani ancaman penyakit zoonosis juga mendapat perhatian besar dari Pemerintah, khususnya Presiden, dengan diterbitkannya Instruksi Presiden (Inpres) No. 4 tahun 2019 yang mengatur tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kedaruatan Nuklir, Biologi, dan Kimia,” ujar Stephen.

Sementara itu Ketut juga menyampaikan contoh capaian kerjasama dengan USAID-FAO antara lain yaitu adanya peningkatan kemampuan deteksi potensi penyebaran zoonosis dan PIB, peningkatan kapasitas penanganan kasus zoonosis secara lintas sektor dan kementerian di lapangan, dan hal ini ditandai dengan adanya penurunan signifikan pada kasus avian influenza (AI) atau flu burung, baik pada manusia maupun hewan.

“Kami mengapresiasi dukungan dari USAID dan FAO ini, dan berharap kerjasama yang sudah baik ini akan terus berlanjut. Kementan bersama kementerian dan lembaga terkait akan terus berupaya untuk bersinergi dalam memperkuat kapasitas One Health Indonesia sesuai dengan Instruksi Presiden No. 4 Tahun 2019,” tambahnya.

Menyambung ucapan Ketut, Wakil Direktur USAID Indonesia, Ryan Washburn, mengakui peran Pemerintah Indonesia, terutama Kementerian Pertanian, atas langkah- langkah penting dalam pelaksanaan pendekatan One Health secara konsisten. "Pemerintah AS melalui USAID telah bermitra selama lebih dari 13 tahun untuk meningkatkan kemandirian Indonesia dalam pencegahan dan pengendalian penyakit. Meskipun masih menjadi hotspot penyakit di kawasan ini, tapi komitmen Indonesia dalam penerapan pendekatan One Health telah meningkatkan kemampuan Indonesia dalam melakukan pencegahan, deteksi, dan respons. Kami gembira bisa merayakan keberhasilan ini sebagai bagian dari peringatan 70 tahun hubungan AS- Indonesia," demikian kata Wakil Direktur USAID Indonesia
Ryan Washburn.

Mengingat ancaman kesehatan yang masih ada tersebut, Stephen memastikan bahwa kerjasama dengan Kementan melalui dukungan USAID akan terus dilanjutkan melalui program Global Health Security (GHS) yang akan dimulai pada tahun 2020. “Proyek GHS Indonesia ini akan berfokus pada peningkatan kapasitas di empat bidang yaitu: a) Surveilans penyakit dan identifikasi risiko; b) Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan PIB; c) Sistem Diagnostik Laboratorium; dan d) Mitigasi Resistensi Antibiotik (AMR) dan Penggunaan Antibiotik (AMU),” pungkas Stephen. (kem)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Kadin Gandeng Perusahaan Swedia untuk Digitalisasi Perikanan
  • Menteri Susi Ancam Uni Eropa karena Pasang Tarif Tinggi ke Produk Ikan Indonesia
  • Menteri Susi Berharap Banyak Negara Ikut Perangi Illegal Fishing
  • Menteri Susi: Kejahatan Perikanan Ancam Kemanusiaan
  • 25 Kelompok Ternak dapat Modal dengan Konsep Syariah
  • KKP Ajak Milenial Geluti Potensi Perikanan Indonesia
  • Menteri Susi Resmikan Pembangunan 16 Proyek Prioritas Kelautan dan Perikanan
  • Sukses Program Inseminasi Sapi, Khofifah Raih Penghargaan
  • Teluk Benoa Jadi Kawasan Konservasi, Ini Penjelasan KKP
  • KKP: Masa Depan Laut Indonesia Ditangan Milenial
  • Kementan Optimalkan Pelayanan Publik Varietas Pakan Ternak
  • Menteri Susi Putuskan Perairan Teluk Benoa Sebagai Kawasan Konservasi Maritim
  • Mentan Ingin Jatim Jadi Percontohan Produksi Sapi
  • Kementan Gelar Public Hearing Permentan Perunggasan
  • Menteri Susi Musnahkan 19 Kapal Ikan Asing Ilegal
  • Menteri Susi Resmikan Sentra Perikanan Terpadu di Natuna
  • Jokowi Ajak Belanda Bangun Sektor Maritim Indonesia
  • Kedaulatan Maritim Selat Malaka-Singapura Perlu Diperkuat
  • Menteri Susi Geram Masih Ada Pengusaha Tangkap Ikan Pakai Potassium
  • Kementan Dorong Usaha Peternakan Sapi di NTB