Kementan Siap Masifkan Program Early Warning System

0 Pengunjung | Indakop dan Hubpartel | Industri | 2019-11-15
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com -Kelangkaan dan over produksi  menjadi salah satu persoalan klasik di sektor pertanian. Tak terkecuali untuk komoditas hortikultura.

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikuktura saat ini tengah merancang Early Warning System (EWS). Sebuah sistem alarm untuk menjaga stabilitas dan pasokan komoditas hortikultura di masyarakat.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan, EWS diharapkan menjadi guidance bagi para pemangku kepentingan, untuk memantau ketersediaan komoditas di pasaran.

Anton sapaannya, lantas menceritakan pengalaman di 2017. Saat itu, harga cabai pada awal tahun tersebut menyentuh angka Rp 250 ribu per kilogram.

"Bayangkan setara dua kilogram daging sapi," ujar Anton saat membuka acara seminar terkait budidaya bawang merah bertajuk ”Capacity Building and TSS Technology Adoption” di Pabrik PT East West Seed lndonesia (EWINDO), Desa Benteng, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Purwakarta, Kamis (13/11).

Pun saat Agustus hingga September kemarin. Harga Si Pedas sempat menembus level di atas Rp 100 ribu. "Di sisi lain ketika bulan Maret dan April, harga anjlok di kisaran Rp 3.000 - Rp 5.000. Stok di pasar berlebih," jelas alumnus doktoral Universitas Putra Malaysia tersebut.

Anton mengungkapkan, melalui EWS nanti, kelangkaan, over produksi, hingga persoalan gejolak harga bisa diminimalisir. Sebab, nantinya tim EWS di tingkat pusat akan berkoordinasi dengan daerah mengkaji secara komprhensif, kebutuhan suatu daerah selama 4-5 bulan ke depan.

"Berapa kebutuhan produksinya, berapa luas lahan tanamnya, hingga kebutuhan bibit maupun lainnya," cetus dia.

Artinya dengan Early Warning System, daerah tahu prediksi kebutuhan masyarakatnya, terutama soal suply and demand-nya seperti apa.

"Jadi sudah terdata. Dianalisis potensi harganya. Hasilnya kemudian kami berikan kepada daerah untuk menjadi bahan di lapangan," beber Anton.

Dalam kesempatan itu, Anton juga mengunjungi sejumlah lokasi produksi benih PT EWINDO. Mulai dari tempat penyemaian benih, lokasi tanam, hingga pengemasan benih.

"Peran swasta seperti PT EWINDO amat penting ya. Misalnya mengkampanyekan teknik menanam TSS. Ini sejalan dengan apa yang kami sedang kampanyekan," ungkapnya. (rep)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Jawa Barat Punya Kampung Perikanan Digital
  • Perbaikan Iklim Investasi Indonesia Tarik Minat Pelaku Bisnis AS
  • Jaga Ketahanan Iklim Desa, Pemerintah Ajak Swasta Kembangkan Agroforestri
  • Jokowi Yakin Indonesia tak Lagi Impor Bahan Petrokimia
  • Hingga November 2019, Realisasi AUTP Mencapai 795,6 Ribu Hektare
  • IPB Luncurkan DigiTani untuk Pusat Penyuluhan Petani
  • BI Sebut Optimisme Konsumen Menguat di November 2019
  • Kementan-Kementerian PUPR Satu Kata Bangun Pertanian
  • Kementerian PUPR Revitalisasi 8 Hektare Tambak Garam
  • Stok Menumpuk, Jokowi Minta Manajemen Cadangan Beras Dibenahi
  • Kementan Bersinergi dengan Kemen PUPR Bangun Saluran Irigasi pada 2020-2024
  • Ditjen PSP Kementan Segera Lakukan Pemetaan Jaringan Irigasi Tersier
  • Presiden Yakin Hilirisasi Pertambangan Dapat Atasi Defisit Perdagangan
  • Industri 4.0 Bisa Dongkrak Ekspor Hingga 10 Persen
  • Kementan Tegaskan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Sudah Sesuai Alokasi Kebutuhan
  • Airlangga : Ledakan di Monas Tak Pengaruhi Iklim Investasi
  • RI-Korsel akan Kembangkan Industri Kreatif
  • Modernisasi Pertanian Siasati Penyusutan Lahan di Jateng
  • Petani Milenial Dongkrak Nilai Ekspor Pertanian
  • Mentan dan Menteri PUPR Kerja sama Infrastruktur Pertanian