Gubernur BI Sebut Rupiah Termasuk yang Terbaik di Asia

Keuangan Perbankan | Moneter | 2020-01-04
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menguat pada penutupan 2019 sebesar Rp 13.880 per dolar AS. Hla tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang yang terbaik di Asia.

“Itu merupakan nilai tukar yang terbaik kalau di Asia tentu saja di bawah Thailand tapi hampir sama dengan Filipina,” katanya di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (3/1).

Perry mengatakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah yang menguat tersebut mendapat apresiasi sebesar 2,68 persen sehingga mengindikasikan adanya stabilitas eksternal. “Stabilitas eksternal terlihat dalam pergerakan nilai tukar rupiah kita sepanjang 2019. Itu mengalami apresiasi cukup besar,” ujarnya.

Di sisi lain, hari ini BI menargetkan kurs tengah rupiah di angka Rp 13.899 per dolar AS yang artinya rupiah melemah tipis empat poin atau 0,02 persen dari posisi Rp 13.895 di hari sebelumnya. Sementara untuk kurs jual rupiah hari ini ditetapkan di angka Rp 13.968 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di posisi Rp 13.829 per dolar AS.

Perry melanjutkan, stabilitas eksternal Indonesia juga bisa dilihat dari banyaknya aliran modal asing yang masuk sepanjang 2019 yaitu sebesar Rp 224,2 triliun. Ia merinci aliran modal asing itu terdiri dari obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) Rp 168,6 triliun, pasar saham Rp5 0 triliun, obligasi koorporasi Rp 3 triliun, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Rp 2,6 triliun.

Tak hanya itu, ia menyebutkan indikator Credit Default Swap (CDS) yang berada di angka 60,6 bps juga merupakan level terendah dalam lima tahun terakhir.

Selanjutnya, laju inflasi Indonesia pada 2019 yang menyentuh angka 2,72 persen (year on year/yoy) merupakan paling rendah sepanjang 20 tahun terakhir sebab ketika 1999 inflasi berada di sekitar 1,9 persen.

“Ini adalah terendah selama 20 tahun terakhir bahkan lebih rendah dari perkiraan BI. Inflasi pada 1999 setelah krisis Asia, krisis Indonesia yang waktu itu kurang lebih 1,9 persen,” katanya.

Sementara itu, untuk cadangan devisa pihaknya memperkirakan akan lebih tinggi dari data sementara saat ini yaitu 127 miliar dolar AS sehingga mengindikasikan NPI kuartal IV 2019 akan mengalami surplus. “Insya Allah minggu depan akan kita umumkan tapi data sementara cadev kita akan lebih tinggi dari 127 miliar dolar AS,” ujarnya. (ant)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Sri Mulyani: Stabilitas Sistem Keuangan Dalam Keadaan Normal
  • OJK Telah Berikan Keringanan Kredit ke 6,73 Juta Debitur
  • OJK Pastikan Keamanan Transaksi Digital Saat Pandemi
  • Indonesia Diyakini Mampu Bertahan dari Krisis Ekonomi
  • Rupiah Menguat Terbawa Sentimen Pemulihan Ekonomi
  • Ketua OJK Pastikan Kondisi Perbankan Aman di Tengah Pandemi
  • Menkeu Siap Kaji Realisasi Wacana Redenominasi Rupiah
  • Cadangan Devisa Juni 2020 Naik Jadi USD 131,7 Miliar
  • BI Yakin Angka Inflasi 2020 Tak Melenceng dari Target
  • Rupiah Menguat Seiring Membaiknya Data Ekonomi
  • OJK Tegaskan Likuiditas Perbankan Indonesia Stabil
  • Kabar Hoaks Bank Bermasalah, Nasabah Perbankan Diminta Jangan Panik
  • OJK Pastikan Kondisi Perbankan Aman, Waspada Hoaks Ajakan Penarikan Uang
  • OJK Pastikan Terus Lakukan Reformasi di Sektor Keuangan
  • BI: Aliran Modal Asing Masuk RI per 25 Juni Capai Rp17 Triliun
  • BI: Inflasi Mei 2020 Masih Sesuai Target
  • Kemenkeu: 1,25 Juta Debitur Dapat Relaksasi Kredit Rp50,6 Triliun
  • BI: Inflasi Mei 2020 Masih Sesuai Target
  • Sri Mulyani Siapkan Strategi Pengelolaan Utang di Tahun 2021
  • Utang Luar Negeri Indonesia Terkendali pada April 2020