PLN Antisipasi Pertumbuhan Listrik Negatif

Indakop dan Hubpartel | Industri | 2020-06-03
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memperkirakan pertumbuhan permintaan listrik pada tahun ini akan negatif.

Direktur Human Capital Management PT PLN (Persero) Syofvi F. Roekman mengatakan dalam rencana awal, perusahaan manargetkan penjualan listrik dapat tumbuh 4,55 persen.

Rencana kerja ini sulit dicapai dalam waktu dekat mengingat pandemi Covid-19 berdampak pada konsumsi listrik.

"Dengan kondisi covid ini tidak hanya PLN yang hadapi penurunan demand yang cukup signifikan tetapi hampir semua utility in the worldwide alami itu," ujarnya, Selasa (2/6/2020).

Syofvi menyebutkan meski permintaan listrik dalam tekanan, saat ini kebijakan pemerintah untuk work from home (WFH) membuat pertumbuhan listrik terjadi di sektor rumah tangga.

PLN tengah menyiapkan model bisnis yang dapat menyesuaikan dengan pergeseran pola konsumsi ini. Termasuk lini yang berpeluang tumbuh dalam 2-3 tahun ke depan.

Menurut Syofvi, PLN telah menyiapkan tiga skenario recovery pasca Covid-19. Skenario itu meliputi skenario optimis, menengah, dan pesimis. Melihat kondisi yang ada saat ini, skenario yang akan diambil yakni skenario menengah.

"Kemungkinan kita ambil skenario menengah dengan kondisi ini, Pertumbuhan demand tahun ini akan negatif," tuturnya.

Menurut alumnus Universitas Indonesia ini, saat ini peningkatan permintaan listrik semakin sulit terjadi. Dalam rancangan kerja PLN sebelumnya elastisitas listrik berada pada 1 sampai 1,3 kali pertumbuhan ekonomi. Artinya jika pertumbuhan ekonomi dirancang pemerintah tahun ini berkisar pada 5 persen maka estimasinya pertumbuhan listrik berada pada tingkat 5 persen sampai 6,5 persen.

“Dalam lima tahun terakhir [elastisitasnya] 0,8 - 0,9 kali. Jadi semakin difficult to get relevan,” katanya.

Badan Kebijakan Fiskal memperkirakan dalam skenario sangat berat maka ekonomi Indonesia akan minus atau resesi. Namun jika menggunakan skenario berat, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada pada 2,3 persen.

Dengan menggunakan elastisitas 0,9 maka estimasi pertumbuhan konsumsi listrik akan berada di bawah 2 persen. (bis)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Pengusaha Harap Omnibus Law Segera Disahkan
  • 11 Importir Teken Perjanjian Penyerapan Gula Petani Tebu
  • Importir Serap Gula Lokal, Kementan: Kualitas Sudah Setara
  • RUU Cipta Kerja Munculkan Peluang Bagi Pekerja
  • Luhut: Pengembangan 10 Desa Wisata Danau Toba Gairahkan Ekonomi Daerah
  • PPI Jalin Sinergi dengan Hipmi Dorong Ekspor Produk Petani
  • Lebih Murah dari Pertamini, 30 SPBU Mini Pertamina Kini Hadir di Jawa Barat
  • Kepemimpinan Presiden Jokowi Dibutuhkan Tingkatkan Optimisme Pelaku Ekonomi
  • Siapkan Bermacam Stimulus, Pemerintah Dorong UMKM Kembali Memulai Usaha
  • Pemerintah Mulai Garap 10 Desa Wisata di Danau Toba
  • Pengamat Nilai RUU Cipta Kerja Buka Peluang & Norma Baru bagi Pekerja
  • Kemenkeu Catat Aset Negara Capai Rp 10.467 Triliun
  • Kementan Apresiasi Sinergi BBVet Maros dan DPRD Sulsel dalam Pengujian Spesimen Covid-19
  • Wamendes Peran Nelayan Penting Perkuat Ekonomi Desa
  • Kemenperin: Air Minum Kemasan Lokal Memenuhi Standar Mutu
  • Pemerintah Setujui Pembentukan Dua KEK Baru di Batam
  • Demi Ketahanan Pangan, Penyuluh All Out Dukung Food Estate
  • Industri Sawit Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional
  • Food Estate di Kalteng, Menteri Basuki Utamakan Pembangunan Irigasi
  • Pertanian Menjadi Sektor Paling Aman Dari Dampak Pandemi Corona