Pengamat Nilai RUU Cipta Kerja Buka Peluang & Norma Baru bagi Pekerja

Indakop dan Hubpartel | Industri | 2020-07-11
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Pasundan Eki Baihaki menilai RUU Cipta Kerja yang masih dibahas DPR RI dapat memberi peluang dan norma baru bagi para pekerja dan pengusaha. Langkah tersebut, kata dia, membuka ruang bagi para pekerja untuk menjajaki peluang usaha.

"Dari sisi pekerja, saya melihat justru banyak peluang yang tercipta dari adanya RUU Cipta Kerja. Banyak sekali stimulus untuk siapapun yang ingin memulai wirausaha. Peluang ini penting bagi para pekerja kalau memang ingin mencari solusi jika menilai keberlangsungan perusahaan terancam di tengah pandemi ini," kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Pasundan Eki Baihaki dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2020).

Eki memandang pekerja mestinya bisa melihat peluang dan opsi lain di tengah ketidakpastian iklim ekonomi yang terjadi. RUU Cipta Kerja, kata dia, memiliki fokus untuk pemberdayaan, perlindungan UMKM, dan kemudahan berusaha yang dapat menjadi jalan keluar agar pekerja juga bisa mandiri dalam hal finansial.

"Kalau hanya menggantungkan diri pada perusahaan, ini contoh pekerja yang menurut saya tidak merdeka. RUU Cipta Kerja ini memberikan opportunity yang luas kok, jadi pekerja memang perlu melihat peluang yang muncul dan memanfaatkannya," lanjut Eki.

Ditambahkan pengamat administrasi publik Universitas Padjajaran Muhammad Rizal, ekosistem ketenagakerjaan yang diatur dalam RUU Cipta Kerja juga menjamin fleksibilitas agar investor lebih mudah masuk dan membuka lapangan kerja lebih masif. Hal tersebut sangat krusial untuk dilakukan, karena Indonesia saat ini menghadapi tantangan bonus demografi pekerja.

"RUU Cipta Kerja jika nantinya disahkan punya fleksibilitas untuk mempertahankan, memperbaiki, dan bahkan menghapus norma lama serta menciptakan norma baru yang lebih ramah investasi. Ini sangat penting untuk segera dilakukan di Indonesia," kata Rizal.

Rizal menambahkan, Indonesia saat ini sudah cukup ketinggalan dari berbagai negara tujuan investasi. Upaya menarik kembali investor ini akan semakin sulit setelah adanya COVID-19, karena itu dibutuhkan regulasi yang tepat.

"Kalau kita tidak mampu memberikan regulasi yang kompetitif dan menarik buat investor, sangat mungkin terjadi relokasi bisnis besar-besaran ke wilayah yang lebih kompetitif. Kalau masih di Indonesia ya mungkin masih oke, tapi kalau ke luar dari Indonesia kan tidak bagus juga," ujar Rizal. (det)

- Tag : Industri

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Meski Dihantam Corona, Nilai Tukar Petani Tumbuh Positif 0,49 Persen
  • Tingkatkan Daya Saing, Pupuk Kaltim Manfaatkan Digitalisasi
  • Kemenperin Konsisten Kembangkan Santripreneur
  • Kementerian PPN Paparkan Perkembangan Satu Data Indonesia
  • BPS: Inflasi Tahunan 1,54 Persen, Terendah 20 Tahun Terakhir
  • Menaker Ida Klaim Sudah Bahas RUU Cipta Kerja dengan Pengusaha dan Buruh
  • PEP Serahkan Rehabilitasi DAS dengan Tingkat Keberhasilan Penanaman 94,7%
  • 480 BPP Model KostraTani Kawal Lahan Irigasi
  • RI-Inggris Kerja Sama Proyek Rendah Karbon
  • Penyuluh BPP KostraTani Sosialisasi Pupuk Berimbang
  • Cegah Resesi Ekonomi, Ini 2 Jurus Kabinet Ekonomi Indonesia
  • Tahun Ini, Kementerian PUPR Mulai Bangun 5 Bendungan Baru
  • Genjot Rasio Elektrifikasi, ESDM Manfaatkan Tabung Listrik
  • Pertagas Teken Kesepakatan Harga Gas Untuk Industri di Jatim
  • Kementerian PUPR Kebut Program Padat Karya Tunai
  • Cetak Petani Milenial Unggul, BPPSDM dan Yess Adakan Pelatihan IT
  • Kementan Ajak Petani Mimika Gunakan Asuransi
  • Kementan Responsif Antisipasi Wilayah Banjir Musim Kemarau
  • KKP: Program Irigasi Tambak Bantu Pemulihan Ekonomi
  • Pemerintah Bakal Tambah Kuota Peserta Kartu Pra Kerja