Stok Akhir Tahun Menjadi Saldo Awal Neraca Gula Tahun 2021

Pertanian dan Pertanahan | Perkebunan dan Kehutanan | 2020-11-23
SHARE : |

Pemerintah dan dunia usaha masih menghitung angka pasti stok nasional pada akhir 2020 yang akan menjadi saldo awal dari neraca gula tahun 2021. Selanjutnya angka itu akan digunakan sebagai dasar penentuan rencana pemenuhan kebutuhan gula pada tahun 2021.

"Stok gula akhir 2020 akan menjadi saldo awal dari neraca gula tahun 2021," ujar Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat.

Menurut Budi dalam keterangannya, setelah mengetahui stok akhir tahun baru dihitung berapa jumlah produksi dalam negeri dan seberapa besar kebutuhan gula nasional. Dari situ akan ditentukan bagaimana pemenuhannya, apakah bisa mencukupi dari produksi dalam negeri atau harus impor.

"Selama ini untuk memenuhi kebutuhan nasional biasanya lewat impor," kata Budi.

Baca Juga:Teh Tambi dan Pagilaran, Varietas Unggul dari Balittri
Kelebihan Varietas Unggul Kayu Manis Koerintji

AGI memperkirakan jumlah stok gula pada akhir tahun 2020 mencapai 1,4 juta ton. Sementara, Kementerian pertanian memperkirakan 1,7 juta ton. Sedangkan menurut perhitungan Kementerian Perdagangan stok akhir tahun mencapai 900 ribu ton.

Total produksi gula dalam negeri tahun 2020 diperkirakan 2,2 juta -2,5 juta ton dengan kebutuhan konsumsi mencapai 3 juta ton.

"Tahun ini (2020) agak istimewa karena kelihatannya konsumsi gula menurun akibat adanya pandemi. Realisasinya hanya di kisaran 2,7 juta ton," jelasnya.

Budi mengatakan rencana pemerintah membuka keran impor gula oleh pelaku industri makanan dan minuman harus diperhitungkan secara matang. Alasannya hal ini akan berdampak pada pabrik pengolahan gula di tanah air dan petani tebu.

"Jika nanti kalangan industri bisa impor langsung, pabrik gula akan menggiling apa. Belum lagi hal itu akan mempengaruhi harga tebu milik petani," katanya.

Dikatakan Budi, harga gula impor jauh lebih murah ketimbang produksi dalam negeri sehingga akan menekan harga gula produksi dalam negeri yang berujung tertekannya harga tebu petani.

"Harus dilihat pada kebijakan awal mengapa dulu dibuat industri pengolahan gula dalam negeri. Kalau semua bisa mengimpor maka diperkirakan akan kontraproduktif," katanya.

Selain itu, lanjut dia, akan timbul masalah baru dalam pengawasan impor bila diberikan kepada banyak pihak. Karena tanpa pengawasan ketat, bisa saja gula impor akan merembes menjadi gula konsumsi dan menimbulkan tekanan terhadap petani.

- Tag : Pemerintah

- Penulis : Netmedia

- Editor : Netmedia

- Foto By : Netmedia


  • Kementan: Stok Jagung Nasional Diperkuat di Sentra Produksi
  • Petani Situbondo Ekspor Perdana 60 Ton Kopi Arabika ke AS Senilai Rp12,1 Miliar
  • Disbun Kaltim meremajakan kebun karet 100 hektare di Paser
  • Kementan-RNI bersinergi kembangkan cadangan komoditas hortikultura
  • KKP akan Bangun Pusat Pembibitan Mangrove di Mempawah
  • Kemenkeu: Sektor Pertanian Pahlawan Perekonomian Indonesia
  • Wujudkan Ketahanan Pangan, Pemprov DKI Manfaatkan Kawasan RTH
  • Mentan Dorong PPL Miliki Kemampuan Baca Agroklimat
  • Pasok Tandan Buah Sawit, Omzet BUMDes Ini Rp15 miliar per Bulan
  • Talas, Si Tanaman 'Bandel' yang Bisa Jadi Kunci Ketahanan Pangan Indonesia
  • Indonesia ekspor cabai kering 21 ton ke Pakistan
  • UU Cipta Kerja Diharapkan Beri Kemudahan dan Perlindungan Bagi UMKM
  • Dorong Ekspor, Kementan Latih Budidaya Krisan Good Agriculture Practices
  • Stok Akhir Tahun Menjadi Saldo Awal Neraca Gula Tahun 2021
  • Dukung Ketahanan Pangan, Kalteng Kembangkan Tanaman Singkong
  • Kementan Optimalkan Fungsi Penyuluh Pertanian
  • Dukung Ketahanan Pangan, Satgas Yonif 413 Tanam Kacang Panjang
  • Kostratani Siap Dukung Budidaya Sistem Hidroponik
  • Siaga Musim Tanam, Distributor Diimbau Lakukan Penebusan Pupuk Bersubsidi
  • Sulawesi Utara Ekspor Kelapa Parut ke Empat Negara Senilai Rp4,99 miliar