Ini Alasan RI Impor 100.000 Ton Jagung Tahun Ini

7 Pengunjung | Indakop dan Hubpartel | Perdagangan | 2018-11-05
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Pemerintah memutuskan impor jagung maksimum 100.000 ton tahun ini melalui Perum Bulog.

Keputusan impor diambil setelah rapat koordinasi terbatas menteri koordinator (menko) perekonomian, menteri pertanian, menteri perdagangan, menteri badan usaha milik negara (BUMN) dan Perum Bulog.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan impor jagung 100.000 ton tahun ini untuk pakan ternak, bukan konsumsi masyarakat.

"Impor itu dilakukan Bulog, yang diutamakan ke peternak mandiri. Tujuannya untuk menstabilisasi harga jagung di sentra sentra peternakan itu, itu intinya," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (4/11/2018).

Dia mengatakan, harga jagung untuk sentra peternakan belum stabil. Hal itu dilatarbelakangi jauhnya jarak dengan sentra produksi jagung, sehingga mempengaruhi ongkos logistik.

"Pabrik pakan kan terkonsentrasi di beberapa tempat, ada Jawa, Lampung, sementara yang sentra produksinya kan menyebar ke mana mana. Berarti kan perlu transport," ujarnya.

Misalnya, ongkos logistik dari Tanjung Priok ke Bengkulu lebih mahal 2 kali lipat dibandingkan dari Tanjung Priok ke Malaysia.

"Contoh dari Tanjung Priok ke Malaysia itu dibandingkan dengan Tanjung Priok ke Bengkulu itu biayanya yang ke Bengkulu lebih mahal 2 kali dibandingkan ke situ," ujarnya.

Pemerintah memutuskan impor jagung maksimum 100.000 ton tahun ini melalui Perum Bulog. Namun diperkirakan sampai akhir tahun, impor tidak akan mencapai angka tersebut.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro mengatakan, kemungkinan impor tidak akan menyentuh sampai 100.000 ton.

"Kalau seandainya Desember bisa tercapai 100.000 ton, tapi biasanya nggak sampai," katanya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (4/11/2018).

Menurutnya, jika berkaca dari pengalaman, impor akan berhenti jika harga jagung di dalam negeri sudah kembali stabil, walaupun kuota impor yang diberikan ke Bulog adalah 100.000 ton.

"Maksimum ya kan (100.000 ton), tapi pengalaman 2016 kalau sudah harga sudah reda ya nggak lagi impor," terangnya.

Dia menjelaskan, impor dilakukan karena situasional meskipun Kementan menyebut jagung surplus. (det)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Harga Cabai Terpantau Turun ke Rp 80.000 per Kg
  • Sumbar Ekspor 22 Ribu Ton Produk Sawit ke Cina dan Jepang
  • Kementan Penuhi Syarat yang Membuat Ekspor Melesat
  • Mulai dilirik, Kementan Tingkatkan Ekspor Beras Hitam
  • Ekspor Karet Meningkat Tajam
  • Kementan Tolak Rencana Impor Jagung
  • Mendag: Kinerja Perdagangan Indonesia Mulai Membaik
  • TPID Solo Sidak Harga Cabai di Pasar Legi
  • Bulog: Harga Jual Daging Impor Brasil Bisa Murah
  • Tingkatkan Ekspor Pertanian, Kementan Kenalkan Aplikasi SARITA
  • Mendag: Perjanjian Dagang RI-Mozambik Diteken Pekan Ini
  • Kementan: Harga Segera Stabil, Produksi Cabai Cukup
  • RI Ekspor Semangka ke Timor Leste
  • Ini Strategi Kementan Stabilkan Produksi Cabai
  • BKP Kementan Perkuat Pengawasan Pangan Segar untuk Ekspor
  • Juli 2019, Ekspor Indonesia Naik 31,02 Persen
  • OTT Bawang Putih, Kementan Cabut Rekomendasi Impor PT CSA
  • Strategi Pemerintah Agar Harga Ayam Tak Anjlok Usai Ada Impor dari Brasil
  • Mentan Ambil Langkah Tegas Terkait Impor Bawang Putih
  • RI Ekspor 15 Ribu Ton Tanaman Pangan