Latest News
  • Sukseskan Pertemuan IMF di Bali                      
  • Sukseskan Pertemuan IMF di Bali                      
  • Sukseskan Pertemuan IMF di Bali                      
  • Sukseskan Pertemuan IMF di Bali                      

Aluminium RI tak Terkena Bea Masuk Antidumping Australia

5 Pengunjung | Indakop dan Hubpartel | Perdagangan | 2018-11-07
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Produk aluminium ekstrusi Indonesia yang diekspor ke Australia dipastikan bebas dari ancaman perluasan pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) Australia. Keputusan ini ditetapkan Komisi Antidumping Australia sebagai Otoritas Australia dalam penyelidikan antidumping.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan menjelaskan, keputusan disampaikan melalui Laporan Final yang dirilis pada 29 Oktober 2018 setelah melalui penyelidikan. Sepanjang proses penyelidikan, Otoritas Australia tidak menemukan cukup bukti adanya indikasi yang melibatkan Indonesia.

"Kami mengapresiasi Otoritas Australia atas hasil yang obyektif serta para eksportir dan asosiasi terkait yang telah bersikap kooperatif terhadap penyelidikan dalam menjalin sinergisme dengan Pemerintah selama mengawal kasus ini," ujar Oke, Rabu (7/11).

Oke menjelaskan, Pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang besar terhadap penyelidikan dan melakukan berbagai upaya penanganan. Ini dilakukan untuk membuktikan bahwa Indonesia bukan negara transit impor aluminium ekstrusi Australia dari Cina.

Selain itu, upaya penanganan diterapkan agar Indonesia terhindar dari pengenaan BMAD seperti Cina yang telah dikenakan Australia sejak tahun 2010. Besaran BMAD-nya mencapai 2,7 persen sampai 25,7 persen dan Countervailing Duty (CVD) sebesar 3,8 persen hingga 18,4 persen.

Oke mengimbau kepada seluruh elemen industri di Indonesia untuk perlu mewaspadai segala modus operasi praktik pengalihan, baik yang diterima oleh Indonesia maupun melalui Indonesia ke negara lain. "Hal ini dikarenakan praktik ilegal tersebut dapat merugikan Indonesia," tuturnya.

Pemerintah, Oke menjelaskan, melakukan berbagai upaya dukungan terhadap penyelidikan ini. Di antaranya mendorong eksportir produsen aluminium ekstrusi Indonesia untuk berpartisipasi mengisi dan menyampaikan kuesioner Otoritas. Selain itu, Pemerintah juga melakukan kunjungan ke Otoritas Australia guna berkonsultasi serta menunjukkan keinginan untuk bekerja sama.

Pemerintah secara khusus mengirim tim delegasi yang terdiri atas Kemendag dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bertemu dengan Otoritas Australia. "Kami menyampaikan data dan informasi yang dibutuhkan guna menyelidiki praktik ini sampai tuntas," kata Oke.

Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati juga menyatakan, hasil ini sesuai dengan fakta di lapangan. Sebelumnya, Kemendag sudah bertemu dan berkoordinasi langsung dengan para produsen yang mengekspor ke Australia.

Pradnyawati menjelaskan, dari awal, pemerintah sudah yakin bahwa Indonesia tidak terlibat. Para produsen menyatakan tidak melakukan praktik tersebut karena mampu memproduksi barang tanpa harus melakukan importasi dari Cina. "Temuan inilah yang kami tekankan kepada Australia" ujarnya.

Atas hasil ini, Kemendag optimis terhadap kinerja ekspor produk aluminium ekstrusi ke Australia ke depan, tentunya dengan cara yang benar. Pada semester pertama tahun 2018, Indonesia membukukan nilai ekspor aluminium ekstrusi ke Australia sebesar tercatat 6 juta dolar AS. Sedangkan pada tahun 2017, nilai ekspor produk tersebut senilai 10,5 juta dolar AS.

Otoritas Australia memulai penyelidikan pada 16 Oktober 2017 berdasarkan aduan dari industri dalam negeri bahwa terdapat aktivitas pengalihan dalam bentuk penghindaran BMAD impor aluminium ekstrusi dari Cina dengan cara pindah kapal (transhipment) dari negara lain yang masih terbebas dari pengenaan BMAD Australia. Selain Indonesia, ada negara Malaysia, Thailand, dan Filipina yang disebut dalam pengaduan. (rep)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


Perdagangan

  • Kementan Lepas Ekspor Kelapa Parut Kering
  • Kementan Tambah Impor Sapi Indukan
  • Kemenkeu: Tarif PPH 22 Berhasil Turunkan Impor Barang Mewah
  • Ekspor Rp 1,5 Triliun, Kementan Dorong Daya Saing Produk Teh
  • Indonesia dan Rusia Target Peningkatan Perdagangan Capai USD5 Miliar
  • Ekspor Indonesia Oktober 2018 USD 15,80 Miliar, Naik 5,87 Persen Dari September
  • Kemendag: Harga dan Stok Pangan Stabil Jelang Natal & Tahun Baru
  • Mentan: Stok Beras Stabil, Tak Ada Alasan Harga Naik
  • Kemendag: Pelaku Rembesan Gula Rafinasi akan Ditindak
  • Kemendag: HET Beras Masih Relevan
  • Jelang Akhir Tahun, Mendag Kawal Pasokan dan Kestabilan Harga Bapok
  • Jokowi Minta Bupati Ikut Jaga Stabilitas Harga
  • Beras Medium di Atas HET, Kemendag Siap Lakukan OP
  • Pemda Diminta Pantau Harga Bahan Pokok Jelang Akhir Tahun
  • Kemenpar: Pasar Halal Masih Berkembang
  • Perjanjian Dagang RI-Mozambik Ditargetkan Rampung Tahun Ini
  • Mendag Enggar Tekankan Promosi Jadi Kunci Sukses Ekspor Indonesia
  • Indonesia Siap Berdagang dengan Negara di Luar WTO
  • Kemendag Bantah Harga Pangan Selalu Naik Jelang Akhir Tahun
  • Mendag: Jagung Impor Dijual Rp 4.000 per Kilogram