Kementan Dorong Petani Muda di Pinggir Bandara Soetta

5 Pengunjung | Indakop dan Hubpartel | Industri | 2018-11-08
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Kementerian Pertanian mendukung pemanfaatan lahan tidur di pinggir Bandara Soekarno Hatta untuk pengembangan hortikultura. Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Hortikultuta Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi saat meninjau lahan pertanian perkotaan seluas 26 hektare yang dikelola petani muda di Kampung Rawa Lini, Teluk Naga, Tangerang, Banten, Rabu (7/11).

Lahan yang letaknya dua kilometer dengan Bandara  Soetta ini ditanami 30 jenis komoditas sayuran dan melon. Suwandi memuji usaha petani muda dalam memanfaatkan lahan yang semulanya lahan tidur yaitu ditumbuhi semak belukar menjadi lahan pertanian produktif. Menurut Suwandi, semangat petani muda ini perlu didorong agar para pemuda tani di daerah lainnya pun bisa bangkit untuk menjadi petani sukses.

"Ini luar biasa. Ada pemuda yang berhasil bertani dengan sistem moderen di lahan perkotaan. Ada 30 jenis sayuran plus melon. Hasil panenya dijual di berbagai pasar tradsional Jabodetabek dan pasar ritel. Bahkan melon rencananya mau diekspor. Pasarnya sudah ada, ke Hongkong. Ini perlu ditularkan ke pemuda lain,” kata Suwandi.

Menurut petani muda di lokasi tersebut, Bagas Suratman (37),  ia mulai bertani sejak 2004. Awalnya, terjun menjadi petani hanya coba-coba tetap lambat laun usahanya menanam sayuran menghasilkan pendapatan yang cukup besar.

“Sekarang pendapatan per harinya mencapai Rp 100 juta.  Pendapatan ini diperoleh dari empat supermarket seperti Superindo, Alfamidi, Carrefour sebagai mitra usahanya. Sayuran juga dipasok ke berbagai pasat tradisional di Jabodetabek,” ujar Bagas.

Bagas menjelaskan, sayuran yang dibudidayakan di antaranya daun pepaya, singkong, kangkung, bayam, caisim, dan katuk. Setidaknya ada 30 item sayur lebih di lahan 26 hektare. Lahan tersebut milik perusahaan kemudian disewa Rp 10 juta per tahun.

"Di sini kami bermitra dengan 40 orang petani yang mengolah lahan 26 hektare. Kami panen setiap harinya untuk menyuplai empat supermarket. Untuk melon, harganya Rp 10 ribu per kg. Pemasaran tidak masalah, biaya produksi Rp 150 juta per hektare. Produksi 25 ton per hektare Minimal keuntungan Rp 50 juta sampai Rp 100 juta per hektare per musim. Masa tanam selama 70 hari,” tambahnya.

Adapun harga sayuran per ikat cukup kompetitif. Misalnya untuk caisim Rp 2.200 per ikat, kenikir Rp 2.500 per ikta, daun singkong Rp 1.500 per ikta, daun pepaya Rp 2.500 per ikat, daun bayam Rp 2.200, daun katuk Rp 3.000 per ikat.

"Untuk memenuhi pasokan, saya satu tahun libur hanya sehari, pas malam takbiran,” tuturnya.

Lebih lanjut Bagas jelaskan, setiap harinya mempekerjakan 15 orang, sementara jika Ramadhan mencapai 30 orang. Ia menuturkan, prinsipnya yaitu menggerakkan lapisan masyarakat lain, sehingga pegawai dari lingkungan setempat.

“Ini sebagai solusi pekerjaan. Ibu - ibu yang mengikat sayur, yang laki - laki bisa packing house," jelasnya.

Bagas menuturkan awal usaha budidaya miliknya adalah melalui otodidak. Ia bergabung dengan komunitas petani lain di nusantara untuk mempelajari hal-hal seputar budidaya. "Saya positive thinking di pertanian ini. Berawal dari kecil tapi bertahan. Sekarang meningkat lebih eksklusif di melon. Cabai dan aneka sayur lainnya sudah dicoba," terangnya.

Bagas merasakan betul dampak bertani.  Sejak bertani, kehidupan ekonominya kian meningkat. Bahkan tujuh orang teman supirnya kini sudah mampu memiliki mobil sendiri.Ia  berharap agar semakin banyak dicetak petani muda. Anak muda harus bergerak untuk berkarya membangun pertanian yang lebih maju. (rep)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Industri, Pariwisata, dan Maritim Jadi Motor Pertumbuhan Baru
  • Kementan Gandeng Milenial Masuk Industri Pertanian 4.0
  • Mentan Amran Beberkan Capaian Kinerja Sektor Pertanian
  • Kementan Dorong Pertumbuhan Petani Muda Milenial
  • Diresmikan Presiden, Pelabuhan Sibolga akan Jadi Motor Penggerak Ekonomi Sumut
  • Jangan Politisasi Petani, Apalagi Mendukung Mafia Pangan
  • Pemerintah Dorong Produksi Gula Industri
  • Menperin Sebut Ada 12 Pabrik Gula Mau Dibangun di RI
  • Dongkrak Pendapatan Petani, Kemenkop dan UKM Dorong Hilirisasi Produk
  • Kemenperin Akan Genjot Produksi Gula
  • PUPR Siapkan Dana Rp9,2 Triliun untuk Program Padat Karya Tunai
  • Dorong Santri Wirausaha, Kemenperin Sumbangkan Mesin Industri Alas kaki
  • Pemerintah Libatkan Milenial Bangun Ekonomi Kreatif
  • Mendes Ingin BUMDes Jadi Solusi Kemiskinan di Bengkulu
  • Mendes Mau Kirim 700 Kepala Desa Studi Banding ke Luar Negeri
  • Kemendag dan BPKN Gencarkan Perlindungan Konsumen ke Masyarakat
  • Revitalisasi Pasar Dorong Penerimaan Daerah
  • Menteri Airlangga: Pemerintah Jokowi Cetak Prestasi Dalam Waktu 4 Tahun Terakhir
  • Bulan Depan Pilpres, Mendag Minta Pengusaha Tak Khawatir
  • Jalin Kemitraan Kunci Sukses Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia