Daging Ayam Olahan & Telur Tetas Indonesia Masuk Pasar Internasional

0 Pengunjung | Pertanian dan Pertanahan | Peternakan, Perikanan dan Kelautan | 2018-12-25
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Industri perunggasan Indonesia terus berkembang dengan pesat. Hal ini dibuktikan dengan adanya ekspor hatching eggs atau telur tetas ayam dan produk daging ayam olahan ke beberapa negara.

Produksi daging ayam dan telur mengalami surplus. Produksi ayam daging ayam (karkas) 2018 diprediksi mencapai 3.382.311 ton. Sedangkan kebutuhannya sebanyak 3.051.276 ton. Artinya, ada surplus sebanyak 331.035 ton. Untuk produksi telur ayam ras, di 2018 ini diprediksi sebanyak 2.562.342 ton. Sedangkan proyeksi kebutuhan telur 2018 sebanyak 1.766.410 ton. Sehingga ada surplus sebanyak 795.931 ton. Atas surplus ini, Indonesia pun berhasil melakukan ekspor.

Ekspor telur ayam tetas ke Myanmar mulai dilakukan sejak 2015. Hingga Oktober 2018, jumlah kumulatif yang sudah diekspor sebanyak 11.003.358 butir dengan nilai Rp 117,04 miliar. Sedangkan ekspor produk olahan daging ayam mulai dilakukan dari 2016. Hingga September 2018 sebanyak 118,81 ton dengan nilai Rp 9,5 miliar. Negara tujuan ekspor daging ayam ini adalah Jepang, Australia, Hongkong, Timor Leste, Qatar, India, PNG, Saudi Arabia, Singapura dan Korea Selatan.

Menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita, status kesehatan hewan sangat berpengaruh terhadap ekspor produk peternakan. “Untuk mendapatkan persetujuan dari negara calon pengimpor tidaklah mudah. Karena telur dan daging ayam harus berasal dari peternakan yang telah mendapatkan sertifikat kompartemen bebas penyakit AI (avian influenza/flu burung) dan Sertifikat Veteriner dari Pemerintah,” ungkapnya.

Sebelum 2003, Indonesia telah mengekspor daging ayam segar dingin dan beku ke beberapa negara antara lain Jepang dan Timur Tengah. Namun dengan munculnya wabah Penyakit AI pada 2003, pasar ekspor daging ayam Indonesia terhenti.

Meskipun masih belum bebas penyakit AI, Indonesia sudah dapat mengekspor dalam bentuk daging ayam olahan yang telah melalui proses pemanasan di atas 70 derajat celcius selama di atas 1 menit. Hal ini karena Indonesia telah mampu membuktikan keseriusan dalam menerapkan sistem biosekuriti berbasis kompartemen bebas penyakit AI yang sekaligus memenuhi standar dan aturan internasional untuk bisa tembus ke pasar Internasional. 

Saat ini, Kementan terus melakukan restrukturisasi perunggasan. Terutama untuk unggas lokal di sektor 3 dan 4 yang menjadi sumber utama outbreak penyakit AI. “Ditjen PKH terus menerus berusaha untuk membangun kompartemen-kompartemen AI dari penerapan sistem biosecurity, yang awalnya hanya 49 titik. Saat ini sudah berkembang menjadi 143 titik dan 40 titik lagi sedang proses sertifikasi” ungkap I Ketut.

Saat ini, Kementan juga terus mendesain kegiatan ini agar peternak lokal dapat turut menerapkannya karena kompartemen-kompartemen yang dibangun oleh Indonesia ini dapat diakui oleh negara lain. Dengan terbentuknya kompartemen-kompartemen, Indonesia dapat ekspor, terus ekspor, dan ekspor lagi.

Sedangkan Sertifikat Veteriner merupakan bentuk penjaminan pemerintah terhadap pemenuhan persyaratan kelayakan dasar dalam sistem jaminan keamanan pangan produk hewan, yang menjadi suatu keharusan bagi setiap unit usaha yang akan mengekspor produk hewannya. Ekspor ini juga menjadi bukti bahwa Indonesia bisa ikut bersaing dengan negara lain dalam memproduksi daging dengan kualitas premium dan sesuai dengan persyaratan internasional. Daya saing lainnya yang dimiliki untuk produk pangan dari Indonesia adalah sertifikasi halal, produk pangan Indonesia mempunyai peluang untuk ekspor ke negara Timur Tengah dan negara muslim lainnya.


Ekspor Telur Asin


Direktur Pengolahan dan Pe­masaran Hasil Peternakan Kementan Fini Murfiani menambahkan, telur asin Indonesia saat ini memang  menjadi komoditas perdagangan yang diminati masyarakat Singapura.
Ber­dasarkan kontrak antara pihak peternak Indonesia dan pengusaha Singapura, disepakati  pengiriman telur asin 100 ribu butir. Total nilai ekspor mencapai Rp 270 juta.


“Kami akan mengawal perdagangan ini, sehingga hubungan baik kedua pihak terjaga. Peternak dapat menjaga pasokan dan memenuhi permintaan buyer. Sedangkan buyer dapat menjaga kepercayaan peternak kami yang bersungguh-sungguh memberikan pelayanan terbaik,” kata Murfiani.


Tak hanya Singapura, Ke­men­tan juga akan menjajaki pasar telur asin di Hongkong dan Brunei Darussalam. Saat ini sudah ada komunikasi antara pihak pengusaha dalam negeri dalam hal ini, UD Surya Abadi selaku peternak dan pemasok telur asin asal Indonesia dengan calon pembeli dari kedua negara tadi. Pihaknya meyakini dua ne­gara tersebut akan terlebih dahulu mencoba
dan menguji kualitas telur asin Indonesia. Sangat mungkin mereka akan memborong komoditas peternakan tersebut untuk konsumsi masyarakat di sana.


Fini menjelaskan bahwa ke depan permintaan telur asin akan terus meningkat seiring dengan berkembangnya kuliner dengan tambahan rasa telur asin. Potensi ini tidak akan disia-siakan Indonesia, mengingat potensi produksi telur itik saat ini berdasarkan angka statistik peternakan Tahun 2017 sebanyak 308.550 ribu ton.


Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan saat ini terus membina peternak dan pengusaha hasil peternakan siap ekspor. Pemerintah juga mendorong promosi produk olahan yang mempunyai nilai tambah bagi peternak dalam berbagai ajang pameran maupun misi dagang. “Kami ingin peternak kami mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Ekspor seperti telur asin ke Singapura adalah contoh nyata,” ujar Fini.


Peternak itik dari UD Surya Abadi Karawang Jawa Barat Rully Lesmana mengapresiasi upaya pemerintah yang telah memfasilitasi pihaknya sehingga bisa memasuki jalur ekspor. Hal tersebut telah membuatnya mendapatkan nilai tambah dari hasil peternakannya. Pengiriman ke Singapura bukanlah yang pertama. Pihaknya sudah pernah mengekspor produk yang sama sejak 2012, tapi sempat terhenti be­berapa tahun karena kendala keterbatasan bahan baku dan perubahan regulasi di negara tujuan.


Namun, dengan berjalannya waktu, untuk mengatasi kendala bahan baku, Rully juga mengembangkan usaha peternakan itik untuk memenuhi makin banyaknya pasar Singapura. “Nilai tambah yang kami peroleh luar biasa. Ini merupakan prestasi yang membanggakan kami,” katanya.


UD Surya Abadi telah mengantongi sertifikat NKV (Nomor kontrol Veteriner) level 2 sejak tahun 2010. Nomor tersebut menandakan produk peternakannya layak ekspor. Sertifikat tersebut adalah jaminan
keamanan pangan kepada pembeli di negara tujuan. Produk ini juga telah mengantongi sertifikat Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis milik
Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan.  Produk itu dinyatakan bebas cemaran mikroba, residu antibiotik, dan logam berat yang dapat membahayakan kesehatan manusia.

Rully mengakui tidak mudah mendapatkan sertifikat NKV. Dia pun menceritakan perjuangannya yang mendapatkan pembinaan dari pemerintah daerah setempat dalam memproduksi telur asin. Cara-cara produksi yang baik dimulai dengan menyusun standar operasional prosedur, antara lain yaitu dengan menetapkan bahwa telur disimpan maksimal tiga hari di penampungan dan harus sudah masuk proses pengasinan.

Telur harus dicuci sebelum diasinkan dengan air bersih.Kemudian dalam melakukan pengasinan Ia pun tak lagi menggunakan tanah, tapi abu sekam. Cara tersebut menekan potensi kerusakan produk. “Ini pengalaman kami. Alhamdulillah selama ini tidak mengecewakan,” ujar pengusaha yang dibantu 40 karyawan itu.

UD Surya Abadi juga telah membuat kode pada produksinya. Telur asin diberi kode 009-027. Angka 009 adalah kode peternaknya (farm), sementara 027 adalah kode petugas candling. Kode telusur seperti itu cukup membantu. “Jadi kalau ada masalah kita tinggal lihat masalahnya di mana dan segera cari cara untuk menanggulanginya,” ujar mantan karyawan perusahaan kaca mobil itu.

Untuk memproduksi telur asin sebanyak itu, Rully mendapatkan pasokan telur bebek dari berbagai daerah. “Total pemasok ada 30 peternak, tapi diprioritaskan peternak asal Karawang, kalau kekurangan baru menerima pasokan dari luar,” pungkasnya. (tim)

- Tag : Industri

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Susi: Lintas Negara Harus Kerja Sama Berantas Ilegal Fishing
  • Peternak dan Produsen Setop Pemberian Antibiotik pada Pakan Unggas
  • Cegah Penangkapan Ikan Menggunakan Bom, DKP Sumbar Siap Lakukan Razia di Danau Singkarak
  • Kerbau Perah Silangit, Rumpun Baru dari Kementan
  • Menteri Susi Lepas Liarkan 870.000 Benih Lobster dengan Potensi Nilai Rp139,8 M
  • Menteri Susi: Benih Lobster tidak Boleh Lagi Ditangkap
  • Pemerintah dan Seniman Kampanyekan Bahaya Penyakit Hewan
  • Kunjungi Malaysia, Susi Teken Perjanjian Illegal Fishing
  • KKP Luncurkan Kawasan Tambak Kakap Putih Pertama Indonesia
  • KKP Tertibkan Lima Rumpon Ilegal Diduga Milik Nelayan Malaysia
  • Kementan Antisipasi Anthrax Jelang Idul Adha
  • Kementan Klaim Peternak Ayam Untung
  • Pemerintah Berkomitmen Mencegah Penyakit Hewan Menular
  • Dorong Digitalisasi, Kementan Data Ternak Secara Daring
  • Kementan Dorong Digitalisasi Pendataan Populasi Ternak
  • Cegah Zoonosis, Kementan Gandeng Berbagai Instansi
  • Kementan Berkomitmen Kembangkan Ternak Puyuh
  • Kerugian Tangkapan Ikan Ilegal Capai Rp 100 T per Tahun
  • RPHU Berperan Penting untuk Tingkatkan Ketersediaan Protein Hewani ASUH
  • Kementan Tingkatkan Ketersediaan Protein Hewani