KKP Kembangkan Bank Plasma Nutfah untuk Ikan

0 Pengunjung | Pertanian dan Pertanahan | Peternakan, Perikanan dan Kelautan | 2018-12-30
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merintis pengembangan bank plasma nutfah khusus untuk ikan, demi menjaga keberlangsungan populasi jenis-jenis ikan yang ada di Indonesia.

Upaya menjaga kelangsungan spesies ikan ini dimulai dengan melakukan identifikasi jenis ikan endemik Indonesia. Sejauh ini, ada sekitar 3.213 spesies ikan yang sudah terdidentifikasi dan prosesnya pun masih terus berjalan.

Selanjutnya, selain mengidentifikasi spesiesnya, dilakukan pula identifikasi jumlah. Kondisi atau status ikanpun akan dikategorikan berdasarkan identifikasi jumlah atau volume tersebut, mulai dari ikan dengan kategori populasi yang masih aman atau banyak, sudah mulai jarang, hampir tidak ada atau memang hanya tinggal cerita.

Kepala  Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP Sjarief Widjaja menyebutkan sebagian dari jenis ikan di atas diperkirakan telah mendekati ambang kepunahan atau hampir tidak ada. Namun, dirinya belum bisa memastikan ikan mana saja yang saat ini telah mendekati ambang kepunahan tersebut.

 “Ini yang harus kita restocking ulang semua yang warna merah [terancam punah] ini. Ini yang kami sudah mulau bergerak ke perairan umum daratan,” jelas Sjarief Widjaja.

Melalui bank plasma nutfah ini, BRSDM akan mencoba membuat koleksi hidup spesies ikan endemik Indonesia dengan mengumpulkan sedikitnya 5 pasang ikan dari berbagai spesies dan sumber baik danau, laut, rawa, waduk dan lain-lain. Ikan- ikan tersebut kemudian akan dibiakkan sebelum akhirnya dikembalikan ke tempat asalnya.

Salah satu jenis ikan yang menjadi target restocking adalah ikan Belida dari Palembang. Ikan ini terkenal menjadi ikon Kota Palembang. Selain di Palembang, ikan inijuga bisa ditemuka di sejumlah adaerah lain seperti di Kalimantan.

Namun, belakangan populasu ikan belida di Palembang sudah menyusut jauh. Untuk itu, pihak BRSDM akan melakukan penarikan sejumlah ikan dari tempat asalnya untuk dikembangbiakkan dan pada akhirnya dikembaikan ke habitat asalnya. Selain belida, ada pula ikan torso dari Jawa Barat.

Selain pengembangan bank plasma nutfah BRSDM juga melakukan pemanfaatan vehicle monitoring system (VMS) untuk menjaga kelestarian rajungan. VMS dipasang pada kapal-kapal yang biasa melakukan penangkapan rajungan guna mengidentifikasi daerah kaya rajungan. Kerja sama ini dilakukan di daerah Deman bekerja sama dengan Universitas Diponegoro.

Dari hasil identifkasi tersebut ditemukan bahwa lokasi yang selama ini dijadikan titik penangkapan oleh nelayan merupakan tempat bertelur rajungan. Berdasarkan kondisi ini, daerah tersebut pun akhirnya diputuskan sebagai lokasi konservasi dan no take zone. (bis)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Kementan Potong Ayam Usia 68 Pekan untuk Kendalikan Stok
  • 19 Dokter kementan Dikerahkan untuk Selidiki Penyakit Hewan
  • Indonesia dan Filipina Sepakati Ratifikasi Zona Ekonomi Eksklusif
  • KKP Kembali Menangkap Kapal Ikan Ilegal Malaysia
  • Produksi Ayam Peternak Berlebih, Ritel Diminta Segera Serap
  • Kementan-FAO Dorong Peternak Unggas Terapkan Biosecurity
  • Satwas Perikanan Tertibkan Alat Tangkap Benih Lobster
  • KKP Tangkap Kapal Ilegal Malaysia Tanpa Bendera di Malaka
  • Soal Gugatan di WTO, Kementan Sebut RI Belum Punya Kesepakatan Impor Ayam dengan Brasil
  • Kementan Ajak Pelaku Perunggasan Stabilkan Harga Unggas
  • KKP Catat 21 Provinsi Sudah Terapkan Aturan Zonasi Wilayah Pesisir
  • KKP Apresiasi Penerapan Prinsip Berkelanjutan Budidaya Tilapia
  • KKP Tangkap Kapal Ikan Ilegal Malaysia
  • Program Upsus Siwab Tingkatkan Populasi Sapi
  • KKP Sebut Daya Beli Pembudi daya Ikan Tumbuh Positif
  • Program Asuransi Perikanan Dorong Semangat Pembudi Daya
  • Waspadai Mutasi Virus Flu Burung, Pasar Unggas Hidup Diawasi
  • Menteri Susi Bakal Kembali Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Usai Lebaran 2019
  • Menteri Susi Lepasliarkan 37.000 Benih Lobster Hasil Penyelundupan
  • Jelang Lebaran Stok Daging Sapi dan Kerbau Surplus 2.450 Ton