Pertanian Konservasi Sejahterakan Petani

0 Pengunjung | Pertanian dan Pertanahan | Tanaman Pangan | 2019-02-07
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Kementerian Pertanian (Kementan) dan Pemerintah provinsi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah bekerja dengan lebih dari 16 ribu petani kecil. Untuk membantu mereka beradaptasi dengan perubahan iklim menggunakan teknik khusus yang disebut Pertanian Konservasi.

Pendekatan baru ini membantu para petani untuk menghadapi perubahan cuaca ekstrem, sambil meningkatkan produksi dan memperbaiki tanah mereka. Dengan dukungan dari FAO dan USAID, hampir 800 kelompok tani di 28 kabupaten di NTT dan NTB memperkuat pemahaman dasar petani untuk melaksanakan Pertanian Konservasi (PK).

Hari ini dilaksanakan lokakarya di Kupang Nusa Tenggara Timur untuk menandai secara resmi berakhirnya proyek. Lokakarya ini adalah salah satu event utama disamping kunjungan lapangan ke lokasi pengembangan PK di desa Camplong. Acara dihadiri oleh perwakilan utama pemerintah nasional dan daerah, LSM, FAO dan USAID.

“Dengan Pertanian Konservasi, penggunaan air dihemat, tanah dilestarikan, dan penggunaan pupuk semakin efektif. Sistem ini akan berkelanjutan guna melindungi tanah, air, dan lingkungan," ujar Gubernur Provinsi NTT, Victor Laiskodat di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Di antara petani termiskin di Indonesia, petani kecil yang terlibat dalam pertanian konservasi meningkatkan produktifitas jagung mereka menjadi lebih dari 4-5 ton. Mereka menggunakan pertanian konservasi selama puncak kekeringan ketika El Nino pada 2015 dan 2016, sementara itu dengan metode tradisional hanya memberi 2,5 ton atau bahkan kurang.

Selain produksi jagung yang lebih tinggi, banyak petani juga menanam berbagai jenis kacang dan tanaman lain untuk meningkatkan kesuburan tanah. Ini juga dilakukan untuk menyediakan makanan bergizi bagi keluarga mereka.

Setelah empat tahun menerapkan teknik-teknik baru, petani juga telah menunjukkan bahwa kualitas tanah mereka meningkat lebih subur. Yakni dengan kandungan karbon dan nitrogen tanah yang jauh lebih tinggi.

Deddy Nursyamsi, Koordinator Nasional Projek Pertanian Konservasi/ Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) mengatakan teknik pertanian konservasi amat bermanfaat terutama diterapkan di lahan kering, iklim kering. Teknik pertanian ini memungkinkan untuk mengkonservasi air di daerah perakaran.

"Hal ini membuat tanah mampu menyimpan air di saat musim hujan dan tetap menyimpannya saat musim kemarau. Hal ini membuat petani di daerah kering mampu panen sampai dua kali dalam setahun, “ ujarnya. (rep)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Lahan Rawa Berpotensi Topang Kebutuhan Pangan
  • Kementan Terus Angkat Eksistensi Bawang Putih Lokal
  • Kementan Giat Monitoring Kualitas Beras Organik
  • Musim Produksi Jagung, Indonesia tak Perlu Impor
  • Stok Jagung Bulog Masih 19.500 Ton
  • Jagung Indonesia tak Kalah Saing dengan Produk Impor
  • Kementan: Angkat Eksistensi Bawang Putih Lokal
  • Mentan: Cadangan Jagung Tersedia, tak Perlu Impor
  • Mentan: Stok Jagung di Bulog Masih 20 Ribu Ton
  • Ekspor Melejit, Indonesia Dapat Jadi Lumbung Pangan Dunia
  • Kemarau Panjang : Stok Cabai Diyakini Masih Aman
  • AB2TI Perkenalkan Varietas Padi yang Lebih Tahan Penyakit
  • Swasembada Bawang Putih Melawan Opini Mafia Pangan
  • Swasembada Bawang Putih Harus Terus Bergulir
  • Subang Dukung Kementan Tanam Padi Gogo
  • Cegah Impor, Kementan Genjot Produktivitas Jagung
  • CBPD Cegah Kerawanan Pangan
  • Tanam Pajale, Kementan Koordinasi Lintas Sektoral
  • Cadangan di Daerah Atasi Rentan Rawan Pangan
  • Kementan akan Penuhi Kebutuhan Benih Lewat Penangkar