Tekan Pemotongan Sapi Betina Produktif, Kementan Gandeng Polri

0 Pengunjung | Pertanian dan Pertanahan | Peternakan, Perikanan dan Kelautan | 2019-03-14
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam menekan laju pemotongan sapi betina produktif Nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur jenderal peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jakarta hari ini

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) tercatat penurunan pemotongan ternak ruminansia betina produktif sebesar 47,10% pada periode 2017-2018. Oleh sebab itu kerjasama dengan Polri akan diperkuat.

Direktur jenderal peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita mengatakan, angka ternak betina produktif yang dipotong tahun 2017 sebanyak 23.078 ekor menurun menjadi hanya 12.209 ekor di tahun 2018. Hal ini tentu sangat mendukung terhadap kegiatan utama Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yakni program Upaya khusus sapi indukan wajib bunting atau UPSUS SIWAB yang memacu produksi atau populasi sapi di dalam negeri.

“Penurunan pemotongan betina produktif yang signifikan ini sebagai dampak dari masifnya kegiatan pengawasan pelarangan pemotongan betina produktif di berbagai wilayah di Indonesia khususnya di 17 Provinsi yang menjadi pilot proyek kegiatan sejak tahun 2017," katanya, Rabu (12/03).

Menurutnya, pencapaian ini adalah hasil nyata dari pelaksanaan kerjasama pengendalian pemotongan betina produktif antara Ditjen PKH dengan Baharkam Polri melalui perjanjian kerjasama yang telah ditanda tangani pada bulan Mei 2017.

I Ketut menjelaskan keberhasilan penurunan pemotongan betina produktif ini tentu saja tidak terlepas dari peran dan keterlibatan aktif jajaran kepolisian melalui kegiatan sosialisasi dan pengawasan yang bersinergi sampai tingkat lapangan melalui peran aktif Bhabinkamtibmas.

“Kami sangat mengapresiasi Baharkam dan jajarannya di daerah, telah melakukan pengawasan mulai dari hulu di kelompok ternak, pasar hewan dan check point sampai di hilir di Rumah Potong Hewan atau di tempat pemotongan di luar RPH”, ungkap I Ketut.

Ketut memperingatkan pelaku pemotongan ternak ruminansia besar betina produktif dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 3 tahun dan denda Rp100 juta - Rp300 juta.

Kombes Pol Asep Tedy Nurassyah dari Baharkam Polri pun mengatakan, ada beberapa daerah yanb sudah memproses kasus pelanggaran tersebut secara hukum mulai dari surat teguran. Bahkan, membuat surat pernyataan untuk tidak melakukan tindakan pelanggaran lagi dan ada yang sudah sampai ke taraf penyidikan. "Polri telah mengimbau untuk tidak memotong sapi betina produktif karena bisa mengakibatkan sanksi pidana”, pungkasnya. (bis)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Pemerintah Perpendek Rantai Pasok Produk Peternakan
  • Peternak: Sapi Impor Asal Brasil Halal
  • Jelang Idul Fitri, Pemerintah Pantau Ketat Tiga Produk Ternak
  • KKP Periksa Kapal Ikan Jepang di Perairan Sulawesi
  • Cegah Penyebaran Penyakit, KKP Larang Penggunaan Induk Udang dari Tambak
  • Sapi Belgian Blue Kejar Swasembada Daging 2026
  • Kementan Pantau Ketat Stok Telur Ayam Selama Ramadhan
  • Pengawasan Pangan asal Hewan Libatkan Berbagai Instansi
  • Kementan: Stok Telur Ayam Selama Ramadhan Surplus
  • Laut Indonesia Dinilai Bisa Jadi Solusi Bayar Utang Negara
  • KKP Bersama Polairud Gagalkan Penyelundupan Lobster Senilai Rp30,8 Miliar
  • KKP Tertibkan Rumpon Ilegal Milik Filipina
  • Menteri Susi Kembali Tenggelamkan 13 Kapal Asing Pencuri Ikan
  • Menteri Susi Tebar Ribuan Benih Bandeng dan Rajungan
  • KKP-Kementan Kolaborasi Kembangkan Budidaya Padi dan Udang Windu
  • Bulog Pastikan Beli Telur Peternak Sesuai HPP
  • Upsus Siwab Tingkatkan Populasi Sapi
  • Susi Pimpin Penenggelaman 26 Kapal Asing di Pontianak
  • Bappenas Targetkan Konservasi Kelautan Capai 32,5 Juta Hektare di 2030
  • Tanggulangi Rabies, Kementan Luncurkan Vaksin Neorabivet┬«