Soal Harga Daging Ayam, Kementan Perkuat Kemitraan Peternak – Integrator

0 Pengunjung | Indakop dan Hubpartel | Perdagangan | 2019-03-14
SHARE : |

Net-Media-Ekonomi.com - Ketersediaan bahan pangan, harga bahan pangan, pembangunan pertanian untuk meningkatkan produksi dalam rangka menjaga ketersediaan bahan pangan dan pengaruhnya pada harga kebutuhan pangan, selalu menjadi soal yang menarik perhatian. Dalam kolom manajemen Harian Fajar Makassar (13/3/2019), Idrus Taba, penyandang gelar Doktor di Bidang Manajemen Sumberdaya Manusia di Universitas Hasanuddin Makassar, menorehkan beberapa buah pikirnya mengenai tata kelola ayam potong di tanah air dengan judul “Sabung Ayam”.

Dimulai dengan gambaran kekecewaan peternak atas perkembangan harga ayam yang sempat meluncur turun. Kemudian mengaitkannya dengan beberapa hal yang diyakini menjadi musabab. Pertama menyoal keberpihakan pemerintah terjadap peternak ayam mandiri, saat harga ayam potong jatuh. Sementara biaya produksi tinggi menyusul efek lanjutan pasokan jagung pakan.

Perlu kembali kami sampaikan, bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) berdiri di atas semua kepentingan dalam menjalankan amanat mandat Presiden untuk membantu pemerintah dalam pembangunan sektor pertanian. Saat peternak ayam mandiri menghadapi kesulitan mendapatkan jagung, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan berinisiatif mencarikan, lalu mendistribusikannya pada peternak mandiri. Pemerintah sangat memahami resiko yang dihadapi peternak menyangkut jagung pakan. Pun begitu saat petani jagung menjelang masa panen, sementara kebutuhan akan jagung terus mendesak, pemerintah dengan terpaksa merekomendasikan impor jagung secara terbatas. Hal ini juga sebagai upaya menekan ulah spekulan mengendalikan harga, sehingga mendorong agar harga jagung di pasaran turun.

Kedua, mengenai akurasi suplai dan distribusi yang juga berujung pada fluktuasi harga. Khusus untuk komoditas ayam potong, Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) mengambil sejumlah langkah berbasis kemitraan peternak – integrator untuk menstabilkan harga daging ayam. Integrator diimbau untuk memaksimalkan kapasitas pemotongan dii Rumah Pemotongan Hewan Unggas (RPHU) dn kapasitas Cold Storage. Sehingga hasil usaha tidak lagi hanya dijual sebagai ayam segar atau _fresh commodity_, melainkan ayam beku, ayam olahan, ataupun inovasii produk lainnya.

“Pihak integrator agar tidak menjual ayam hidup ke pasar tradisonal. JIka hal ini dilaksanakan dengan baik, maka harga di peternak (_Farm Gate_) dapat segera kembali normal,” ujar Direktur Jenderal PKH I Ketut Diarmita saat melakukan konferensi pers, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Rabu (6/3).
Lebih lanjut, pemerintah terus mengampanyekan konsumsi protein hewani, agar mendongkrak naik penyerapan ayam dan telur serta konsumsi perkapita per tahun.

Dengan meningkatnya konsumsi protein hewani maka akan berdampak terhadap peningkatan permintaan produk hewan, termasuk daging unggas, sehingga dapat meningkatkan serapan pasokan unggas di dalam negeri. Saya berharap semua pihak terutama industri perunggasan terus meningkatkan kampanye tentang pentingnya konsumsi protein hewani.

Peran Pengawasan Pemda
Pemerintah Daerah turut diimbau untuk melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap budidaya ayam ras, serta pendataan para peternak dan populasi ayam ras di wilayahnya, baik peternak mandiri maupun milik integrator. Selain itu, Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota dan seluruh Pejabat Fungsional Pengawas Bibit ternak serta fungsional teknis lain yang tersebar di seluruh provinsi maupun kabupaten/kota untuk melakukan pengawasan di kandang-kandang yang ada di wilayahnya. Pengawasan tersebut dilakukan sesuai dengan Permentan No. 32 Tahun 2017 tentang penyediaan, peredaran, dan pengawasan ayam ras.

Imbauan juga disampaikan kepada para pelaku usaha (stake holders) agar tahun-tahun berikutnya dapat mengukur jumlah chick-in ayam khususnya pada bulan Januari agar tidak terjadi kejadian yg sama seperti tahun ini dan demi menjaga keseimbangan produksi dan permintaan.

Per tanggal, 1 Maret 2019, Ditjen PKH mewajibkan para integrator menyampaikan laporan produksi DOC setiap bulan melalui pelaporan online, termasuk tujuan pendistribusiannya. Untuk itu, I Ketut berharap agar para asosiasi peternak unggas untuk segera menyampaikan data peternak mandiri yang menjadi anggotanya, agar jelas yang mana peternak mandiri dan UMKM.

Dengan upaya ini nantinya kita akan mengetahui produksi DOC untuk budidaya internal integrator (on farm dan integrasi/plasma) dan yang didistribusikan ke peternak mandiri.

Sebagai bagian upaya menjaga keseimbangan produksi dan permintaan, Ditjen PKH akan mengoptimalkan tim analisa dan tim asistensi serta tim pengawasan dalam mendukung pelaksanaan Permentan 32 tahun 2017. Terkait hal ini Ditjen PKH pun secara periodik menganalisis supply-demand ayam ras dan secara rutin menyelenggarakan pertemuan antara peternak dengan pemerintah dan juga dengan para stakeholders ayam ras terkait.

Langkah berikutnya, Ditjen PKH mengimbau agar para perusahaan integrator untuk terus meningkatkan ekspornya. I Ketut Diarmita menyebutkan, kondisi produksi daging ayam nasional pada saat ini sudah swasembada, harus terus dipertahankan dan digenjot terus untuk meningkatkan ekspornya ke beberapa negara baik dalam bentuk DOC maupun produk olahan.

Ia pun meminta kepada para pedagang (bakul) untuk ikut menjaga kestabilan harga.
“Saya juga meminta kepada Satgas Pangan untuk mengawasi perilaku para broker dan bakul agar harga secepatnya stabil. Saya berharap mulai Senin tidak ada lagi harga ayam hidup di bawah harga acuan Kemendag“, ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Trioso Purnawarman selaku Ketua Tim Analisa Penyediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi menyampaikan, analisis supply-demand selalu dilaksanakan secara periodik, dan tidak ada over supply terhadap DOC Final Stock.

Ia menyampaikan pihaknya sudah mengantisipasi _over supply_ yang terjadi tahun 2018 sehingga sudah dilakukan pengurangan Grand Parent Stock (GPS) pada tahun ini. Sehingga bisa dipastikan yang diproduksi hingga bulan Maret ini tidak ada over supply.

Turunnya harga ayam ditengarai karena terjadi penurunan demand. Kampanye pemilu ternyata tidak secara linier berdampak terhadap peningkatan permintaan. (faj)

- Tag : Pemerintah

- Penulis :

- Editor :

- Foto By : Google


  • Harga Cabai Rawit di Gorontalo Kembali Normal
  • Presiden Minta Stabilitas Harga Pangan Dijaga Jelang Puasa
  • Kebijakan tolak impor bawang putih perkuat petani lokal
  • Sumut siapkan stok beras 61.500 ton
  • Sekabel siap bentuk Dewan Kayu Indonesia tingkatkan ekspor
  • Tolak Impor Bawang Putih, Pemerintah Diapresiasi Petani
  • Jelang Puasa, Harga Telur Masih Stabil di Pasar Tradisional
  • 7 Perusahaan Dapat Kuota Impor Bawang Putih 100.000 Ton
  • Ekonom: Awasi Imbal Balik Operasi Pasar Bawang Putih
  • Pemerintah Ubah Formula Harga Gas Elpiji
  • Pemerintah Berupaya Menjaga Daya Beli pada Bulan Ramadan
  • Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Rotan ke Timor Leste
  • Pantauan Harga Pangan Pasar Hari ini: Bawang Merah dan Putih Turun, Cabai Naik Tipis
  • Importir Klaim Harga Bawang Putih Sudah Turun
  • Genjot Ekspor, Kementan Gandeng 14 Instansi di Papua Barat
  • Kemendag Akan Turunkan Harga Bawang Putih Secara Bertahap
  • Tekan Harga, Kemendag Operasi Pasar Bawang Putih Tiap Hari
  • Gelar Operasi Pasar, Kemendag Jual Bawang Putih Rp20 Ribu/Kg
  • Kementan Targetkan Nilai Ekspor Pertanian Meningkat
  • Kementan Perpanjang Operasi Pasar Bawang